Resep Getuk Lindri Pelangi, Jajanan Pasar Warna-Warni yang Lembut dan Manis
Ditulis oleh: resepjajananpasarlokal
Updated: 30 Oktober 2025
Ada sesuatu yang magis dari jajanan pasar Indonesia.
Ketika Warna dan Rasa Menyatu di Meja Dapur Nusantara
Tak hanya rasa, tapi juga warna, tekstur, dan aroma yang mengikat kenangan masa kecil, Salah satu yang paling memikat pandangan dan selera adalah Getuk Lindri Pelangi.
Getuk, dalam kesederhanaannya, menyimpan cerita panjang tentang kemandirian rakyat desa di masa lalu.
Dulu, ketika beras sulit didapat, masyarakat mengganti sumber karbohidrat dengan singkong bahan yang tumbuh subur di tanah tropis Indonesia.
Dari keterbatasan itulah lahir makanan yang kini menjadi ikon pasar tradisional: lembut, manis, dan selalu membawa senyum.
Namun, waktu membawa perubahan, Kini getuk tidak hanya putih polos atau cokelat gula merah, Ia berevolusi menjadi Getuk Lindri Pelangi versi modern yang memadukan seni kuliner dan visual, menjadikannya bukan sekadar makanan, melainkan karya tangan penuh cinta.
Asal Usul dan Filosofi di Balik Getuk Lindri
Sejarah getuk berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama Magelang, yang dikenal sebagai pusat pengrajin getuk. Nama “getuk” sendiri dipercaya berasal dari bunyi proses pembuatannya: dug-dug-getuk, saat singkong ditumbuk halus di atas lumpang kayu.
Di masa kolonial, getuk menjadi lambang ketahanan pangan rakyat. Singkong yang dulu dianggap “makanan orang miskin”, justru menjadi simbol ketekunan dan kecerdikan.
Dalam budaya Jawa, getuk juga sering disajikan dalam hajatan atau selamatan, melambangkan kebersamaan dan kesederhanaan.
Kini, getuk pelangi hadir sebagai bentuk baru dari kebanggaan tradisional, Warna-warninya melambangkan semangat zaman kreatif, ceria, tapi tetap berakar pada resep nenek moyang.
Bahan-Bahan Membuat Getuk Lindri Pelangi
Untuk menghasilkan getuk lindri yang lembut, harum, dan tidak mudah keras, pemilihan bahan sangat penting. Pastikan semua bahan segar dan alami agar warna serta tekstur sempurna.
Bahan Utama:
- 1 kg singkong segar (kupas, cuci bersih, potong-potong)
- 150 gram gula pasir
- 100 gram margarin
- 1/2 sdt garam
- 1/2 sdt vanili bubuk
- 100 gram kelapa parut (kukus sebentar untuk taburan)
- Pewarna makanan alami (merah dari bit, hijau dari pandan, ungu dari ubi ungu, kuning dari kunyit)
Bahan Pelengkap:
- Daun pisang untuk alas
- Parutan kelapa muda yang dicampur sedikit garam
Cara Membuat Getuk Lindri Pelangi yang Lembut dan Cantik
Langkah 1: Rebus Singkong Hingga Empuk
Masukkan potongan singkong ke dalam panci berisi air mendidih dan sedikit garam. Rebus selama 15–20 menit sampai benar-benar empuk. Angkat dan tiriskan.
Langkah 2: Tumbuk Halus Saat Masih Hangat
Selagi panas, tumbuk singkong hingga halus. Tambahkan margarin, gula pasir, dan vanili. Aduk rata sampai menjadi adonan lembut dan bisa dipulung.
Langkah 3: Bagi Adonan Menjadi Beberapa Warna
Bagi adonan menjadi empat atau lima bagian. Beri pewarna alami pada masing-masing bagian. Misalnya, hijau pandan, merah bit, ungu ubi, kuning kunyit, dan putih alami. Aduk rata hingga warna menyatu sempurna.
Langkah 4: Cetak atau Gulung dengan Mesin Gilingan
Ambil satu warna, bentuk memanjang seperti mie dengan alat penggiling getuk atau cetakan kue. Ulangi dengan warna lain, lalu susun berlapis-lapis di wadah hingga membentuk pola pelangi.
Langkah 5: Taburi Kelapa Parut Kukus
Setelah selesai, taburi kelapa parut gurih di atasnya. Getuk lindri siap disajikan!
Warna-warni cerahnya menggoda mata, teksturnya lembut, dan rasa manisnya pas di lidah.
Rahasia Dapur Agar Getuk Lindri Tidak Keras dan Tetap Lembut
- Gunakan singkong muda. Teksturnya empuk dan tidak berserat.
- Tumbuk saat panas. Ini membuat pati singkong menyatu sempurna dengan gula dan margarin.
- Tambahkan sedikit margarin. Selain memperkaya rasa, juga menjaga kelembutan.
- Simpan di suhu ruang dengan wadah tertutup. Jangan simpan di kulkas, karena singkong bisa mengeras.
- Gunakan pewarna alami. Selain aman, hasilnya lebih lembut dan tampak elegan.
Rahasia kecil lainnya: jika ingin aroma lebih harum, tambahkan satu sendok kecil santan kental hangat ke dalam adonan terakhir. Ini memberi kelembutan ekstra tanpa membuat getuk terlalu lembek.
Nilai Gizi dan Manfaat Getuk Lindri Pelangi
Meski termasuk jajanan tradisional, getuk punya nilai gizi yang tinggi, terutama jika dibuat dari bahan alami.
Singkong adalah sumber karbohidrat kompleks, mengandung serat, kalsium, dan sedikit protein nabati.
Gula dan kelapa memberikan energi cepat, sementara pewarna alami dari bahan nabati memberikan tambahan antioksidan.
Kandungan per 100 gram Getuk Lindri:
- Energi: ±200 kalori
- Karbohidrat: 40 gram
- Serat: 2 gram
- Lemak: 6 gram
- Protein: 1,5 gram
- Vitamin C, zat besi, dan magnesium alami dari singkong.
Kombinasi ini membuat getuk lindri pelangi menjadi camilan sehat apalagi bila disajikan tanpa pewarna kimia dan gula berlebih.
Getuk Lindri dalam Budaya dan Modernisasi Kuliner
Bicara tentang getuk bukan sekadar bicara camilan, tapi juga identitas. Getuk telah menempati ruang nostalgia di hati masyarakat Indonesia.
Ketika seseorang melihat potongan getuk warna-warni, sering muncul kenangan masa kecil: belanja ke pasar bersama ibu, menikmati getuk hangat sambil duduk di bale-bale bambu.
Namun kini, di tangan generasi muda, getuk mengalami modernisasi elegan, Banyak kafe dan bakery memasukkan getuk pelangi dalam daftar menu mereka disajikan dengan plating cantik di piring keramik, ditaburi kelapa sangrai, dan dipadu teh melati dingin.
Tren ini menarik: jajanan pasar naik kelas tanpa kehilangan jati dirinya. Dunia digital dan kuliner saling menyapa.
Varian dan Inovasi Getuk di Era Modern:
- Getuk Keju - kombinasi unik antara tradisi dan keju cheddar parut yang gurih,
- Getuk Gulung Cokelat - berisi cokelat leleh di tengahnya, populer di kalangan remaja,
- Getuk Lapis Pandan - perpaduan wangi pandan dan vanili yang lembut,
- Getuk Brown Sugar Butter - inovasi dengan mentega asin dan gula aren cair,
- Getuk Cupcake Mini - bentuk modern yang cocok untuk hampers dan acara resmi.
Inovasi-inovasi ini menunjukkan bagaimana resep lokal bisa bersaing di panggung global dengan kreativitas.
Makna Filosofis Getuk Kesederhanaan yang Mewah
Ada filosofi menarik di balik sepotong getuk, Ia lembut tapi padat, sederhana tapi berwarna.
Seperti kehidupan: harmoni datang dari keberagaman. Warna-warni pada getuk pelangi menggambarkan kehidupan yang penuh variasi, namun tetap indah jika bersatu.
Getuk juga simbol kerja keras dan keikhlasan dibuat dengan tenaga manual, tanpa mesin canggih, tapi menghasilkan rasa yang tak tergantikan.
Sebuah pelajaran bahwa kelezatan sejati datang dari proses yang jujur dan cinta yang tulus.
Keunggulan Getuk Lindri Pelangi dibandingkan Jajanan Pasar Lain
- Visual Menarik: warnanya alami dan menggoda, cocok untuk promosi digital.
- Rasa Familiar: manis gurih khas Indonesia yang tak lekang waktu.
- Bahan Lokal Murah: mudah didapat dan ramah kantong.
- Nilai Tradisi: punya cerita sejarah dan filosofi kuat.
- Fleksibel untuk Inovasi: mudah dikreasikan menjadi produk modern seperti oleh-oleh kekinian.
Banyak pelaku UMKM kini menjadikan getuk pelangi sebagai ikon usaha mereka. Kombinasi warna cerah dan rasa lembut menjadikannya produk yang instagramable, cocok untuk branding di era media sosial.
Tips Branding Getuk Pelangi untuk UMKM dan Blogger Kuliner
Bagi pelaku usaha kuliner dan penulis resep, Getuk Lindri Pelangi punya potensi besar untuk dikembangkan. Berikut pendekatan branding yang terbukti efektif:
Gunakan nama unik. Contoh: “Getuk Pelangi Bahagia” atau “Getuk Warna Nusantara.”
Fokus pada visual. Foto dengan pencahayaan alami sangat penting untuk menarik klik di Pinterest dan Google Images.
Kemas ramah lingkungan. Gunakan daun pisang atau kertas kraft. Google menyukai bisnis dengan citra “green living.”
Bangun backlink berkualitas. Hubungkan artikelmu dengan situs kuliner, UMKM, dan komunitas resep terpercaya.
Optimasi metadata. Judul, deskripsi, dan alt-text gambar harus mengandung kata kunci utama agar mudah terindeks.
Dengan strategi ini, artikel seperti “Resep Getuk Lindri Pelangi” tidak hanya disukai pembaca, tapi juga menjadi konten evergreen di mata algoritma Google.
Varian Getuk Daerah Ragam Rasa dari Sabang sampai Merauke
Getuk bukan sekadar camilan ia adalah peta rasa Nusantara. Setiap daerah menafsirkan ulang singkong dan gula dengan caranya sendiri. Walau sama-sama disebut “getuk”, cita rasanya bisa berbeda jauh tergantung bahan lokal, cara pengolahan, dan selera masyarakat setempat.
Menariknya, di balik setiap potongan getuk, selalu ada kisah kecil: tentang tanah yang subur, tentang budaya yang ulet menjaga warisan, dan tentang tangan-tangan perempuan desa yang sabar menumbuk singkong di pagi buta.
Mari menelusuri berbagai varian getuk daerah yang membuat Indonesia begitu kaya rasa dan warna.
Getuk Magelang - Sang Legenda dari Tanah Jawa Tengah
Magelang dikenal sebagai tanah kelahiran getuk klasik, Di sinilah Getuk Magelang menjadi ikon kuliner lokal yang sudah melegenda sejak masa kolonial.
Ciri khasnya adalah tekstur lembut dan rasa manis yang pas, serta tampilannya yang sederhana namun elegan.
Biasanya, getuk Magelang tidak diberi pewarna cerah. Warnanya putih alami dari singkong rebus, disajikan dengan taburan kelapa parut dan gula halus.
Namun, seiring waktu, muncul variasi seperti Getuk Trio kombinasi tiga warna (putih, cokelat, dan hijau) yang menggambarkan harmoni rasa dan tampilan.
Yang unik, di pasar-pasar Magelang, getuk dijajakan dengan bungkus daun pisang kecil, dan sering dipadukan dengan teh panas saat pagi hari. Kehangatan sederhana yang tak tergantikan.
Getuk Goreng Sokaraja - Renyah di Luar, Lembut di Dalam
Dari Magelang kita melangkah ke Sokaraja, Banyumas, tempat lahirnya varian legendaris lainnya: Getuk Goreng.
Berbeda dari getuk pada umumnya yang lembut dan dikukus, getuk Sokaraja justru digoreng hingga berwarna cokelat keemasan.
Prosesnya menarik: getuk singkong dicampur gula merah cair dan sedikit tepung, dibentuk bulat, lalu digoreng.
Hasilnya? Aroma gula yang karamel, tekstur luar renyah, tapi bagian dalamnya tetap lembut dan manis.
Rasanya sangat khas perpaduan antara gurih minyak dan manis gula yang pekat, Tak heran jika Getuk Goreng Asli Haji Tohirin dari Sokaraja kini menjadi oleh-oleh wajib bagi pelancong di jalur selatan Jawa.
Bagi penulis kuliner dunia, getuk ini disebut sebagai “fried cassava fudge” versi Indonesia dari dessert karamel tropis.
Getuk Lindri Jawa Timur Lembut, Bermotif, dan Penuh Warna
Kalau Magelang punya getuk klasik dan Sokaraja punya getuk goreng, Jawa Timur dikenal dengan Getuk Lindri-nya yang artistik.
Getuk ini ditumbuk halus dan dipadatkan, lalu dicetak menggunakan alat bergigi seperti mesin mie. Hasilnya, potongan getuk memanjang dan berpola.
Biasanya disusun warna-warni hijau pandan, merah muda, ungu ubi, dan putih alami,
Di pasar tradisional Surabaya atau Blitar, getuk lindri sering disajikan dalam bentuk bunga atau garis spiral paduan rasa dan estetika yang menggoda mata, Pewarna yang digunakan kebanyakan alami daun suji, ubi ungu, dan kunyit, menjadikan getuk lindri aman dan sehat.
Selain itu, tekstur lembutnya membuatnya disukai anak-anak hingga orang tua.
- Melangkah ke Kediri, kita bertemu varian menarik getuk pisang,
- Bahan dasarnya bukan singkong, melainkan pisang raja atau pisang kepok matang yang dihaluskan, dicampur tepung terigu, dan dikukus,
- Warna getuk pisang umumnya cokelat keemasan dengan aroma harum khas pisang panggang,
- Rasanya manis alami, lembut, dan sedikit legit,
- Getuk ini biasa dibungkus daun pisang berbentuk prisma panjang bentuk yang membuatnya mudah dikenali,
- Menariknya, getuk pisang menjadi ikon oleh-oleh kota Kediri dan telah menembus pasar luar negeri.
Beberapa pengusaha bahkan memasarkan produk ini ke Jepang dan Korea, dengan label Indonesian Banana Steam Cake.
Getuk Lindri Betawi - Cita Rasa Urban yang Tak Hilang
Jakarta, meski modern, masih menyimpan sisa-sisa cita rasa Betawi lama, Salah satunya lewat Getuk Lindri Betawi.
Berbeda dari versi Jawa, getuk ini punya rasa lebih gurih dan sedikit asin karena kelapanya dicampur langsung ke dalam adonan, bukan hanya sebagai taburan, Warna-warnanya lebih lembut - pastel dan tidak terlalu mencolok, Biasanya disajikan dalam acara keluarga atau hari besar seperti Lebaran dan hajatan Betawi.
Keunikan getuk Betawi adalah penyajiannya bersama kue basah lain seperti kue lapis, ongol-ongol, dan kue cucur, Kombinasi manis gurih ini merefleksikan gaya hidup Betawi yang penuh warna namun tetap hangat.
Getuk Singkong Ambon - Cita Rasa Tropis dari Timur Indonesia
Siapa bilang getuk hanya milik Pulau Jawa? Di Ambon dan beberapa daerah Maluku, masyarakat juga mengenal getuk versi tropis dengan bahan tambahan kelapa dan gula aren cair.
Cita rasanya lebih gurih, dengan aroma kuat dari kelapa bakar dan daun pandan lokal.
Warna-warnanya alami, sering kali berasal dari bunga telang atau ubi ungu yang tumbuh liar di halaman rumah.
Getuk Ambon biasanya disajikan di atas daun pisang besar dengan taburan kelapa muda sangrai, cocok disantap sore hari sambil menikmati teh rempah hangat.
Sebuah perpaduan manis-gurih yang benar-benar menggambarkan karakter masyarakat timur: sederhana tapi penuh semangat.
Getuk Singkong Kalimantan - Kaya Rempah dan Santan
Beralih ke Kalimantan, kita menemukan varian getuk beraroma rempah.
Penduduk lokal sering menambahkan santan, daun pandan, dan sedikit jahe ke dalam adonan singkongnya, Hasilnya lembut, harum, dan memberikan sensasi hangat di tenggorokan.
Getuk Kalimantan juga sering dihidangkan dalam acara adat, sebagai simbol rejeki dan kehangatan keluarga.
Bentuknya tak selalu persegi - kadang dibulatkan seperti klepon kecil tapi tanpa isian.
Sajian ini membuktikan bahwa getuk adalah kuliner fleksibel yang mudah menyesuaikan diri dengan budaya setempat.
Getuk Ketan Bali - Sentuhan Eksotis Pulau Dewata
Di Bali, istilah “getuk” tak hanya merujuk pada singkong, tapi juga kue kukus dari tepung ketan putih yang diberi gula merah cair dan sedikit santan.
Teksturnya lebih kenyal dibanding getuk singkong, dengan aroma khas daun pandan dan wangi kelapa muda.
Biasanya disajikan dalam potongan kecil, disusun rapi di atas tampah kecil yang dihias bunga kamboja khas presentasi kuliner Bali.
Rasanya gurih legit dengan warna alami kecokelatan, menggambarkan kesederhanaan namun kaya cita rasa tropis.
Bagi wisatawan asing, kue ini sering disebut “Bali Brown Sugar Rice Cake” dan dijadikan oleh-oleh khas daerah Gianyar atau Tabanan.
Getuk Ubi Manado Paduan Ubi dan Keju yang Modern
Di Manado, bahan lokal diolah kreatif menjadi varian baru Getuk Ubi Manado,
Alih-alih singkong, mereka menggunakan ubi jalar ungu yang dihaluskan dan dicampur dengan parutan keju,
Teksturnya lembut seperti mousse, warnanya memikat, dan rasanya manis-gurih modern,
Camilan ini disukai kaum muda dan sering disajikan di kafe-kafe lokal.
Inovasi seperti ini membuktikan bahwa jajanan pasar bisa menjadi bagian dari kuliner fusion global, tanpa kehilangan akar lokalnya.
Baca juga: Resep Wajik Ketan Gula Merah, Legit dan Harum Daun Pandan
Baca juga: Resep Wajik Ketan Gula Merah, Legit dan Harum Daun Pandan
Getuk Palembang Manis Gurih dengan Kental Gula Merah
Palembang, terkenal dengan pempeknya, ternyata juga punya versi getuk yang istimewa.
Getuk Palembang dibuat dari singkong parut kasar yang dikukus dan disiram dengan kentalan gula merah dan santan pekat.
Rasanya lebih gurih dibanding getuk Jawa, dan sering diberi topping wijen atau kacang sangrai.
Biasanya disajikan saat sore hari di pinggir Sungai Musi, menjadi teman santai sambil menikmati matahari terbenam.
Filosofi Rasa di Balik Keanekaragaman Getuk Nusantara
Dari Jawa hingga Maluku, dari Betawi hingga Bali setiap varian getuk adalah bentuk ekspresi budaya dan adaptasi lingkungan.
Semua bermula dari bahan sederhana, tapi setiap daerah menambahkan ciri khasnya sendiri: aroma, bentuk, hingga makna sosial di balik penyajiannya.
Filosofinya dalam:
- Getuk bukan sekadar makanan, tapi wujud gotong royong dan cinta terhadap hasil bumi.
- Ketika ibu-ibu menumbuk singkong bersama di dapur, mereka tak hanya memasak mereka membangun tradisi.
Menjaga Warisan Getuk di Era Digital
Kini, tantangan terbesar bukan lagi membuat getuk, melainkan menjaganya tetap dikenal generasi muda,
Anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan donat dan brownies daripada getuk,
Di sinilah peran blogger kuliner seperti kamu menjadi penting.
Dengan menulis resep otentik, berbagi foto estetik, dan mengangkat kisah budaya di balik jajanan, kita bisa membuat getuk kembali bersinar di Google dan di hati pembaca.
Getuk, Cermin Indonesia yang Manis dan Penuh Warna
Dari Magelang hingga Ambon, dari daun pisang hingga piring keramik getuk telah menempuh perjalanan panjang, Ia bertahan bukan karena glamor, tapi karena rasa jujur yang tak pernah lekang oleh waktu :
- Warna-warninya adalah kisah Nusantara,
- Manisnya adalah kenangan masa kecil,
- Dan setiap potongannya mengingatkan kita bahwa keindahan tidak selalu datang dari kemewahan, tapi dari kesederhanaan yang dikerjakan dengan cinta.
Getuk Lindri Pelangi dan seluruh saudaranya di penjuru negeri adalah bukti bahwa Indonesia tidak pernah kehilangan rasa, Getuk Lindri Pelangi adalah contoh sempurna bagaimana tradisi dan modernitas bisa berdampingan, Dari dapur nenek hingga feed Instagram masa kini, dari pasar tradisional hingga kafe modern getuk selalu menemukan tempatnya.
Lembut, manis, dan berwarna, ia bukan hanya camilan, tapi juga cermin dari semangat Indonesia: sederhana namun penuh warna, lokal tapi berjiwa global.
Ketika sepotong getuk meleleh di mulut, kita seolah mencicipi sejarah bangsa rasa kerja keras, kehangatan, dan cinta yang diwariskan turun-temurun.







0 comments:
Catat Ulasan